Tentang Kesabaran
Menembus Raudhah
#SebuahCatatanPerjalanan
Lewat sedikit dari tengah hari, kami telah berkumpul di bis dan makan siang di sana setelah melewati imigrasi yg menghabiskan waktu 6 jam lebih. Semangat mengunjungi BaituLah dan napak tilas perjalanan hidup dan perjuangan RasuluLlah, menjadi penghalau segenap letih.
Ada 5 bis yg disediakan travel untuk kami. 1 bis terdiri dari 45 jamaah. Udara Jeddah yg membakar, sanggup diredam oleh kenyamanan bus AC dg formasi seat 2 2 itu. Ada toilet di dalamnya yg membuat lega karna Ammar masih sangat membutuhkan toilet di sepanjang perjalanan.
Saya kembali merasa tersanjung dengan kenyamanan perjalanan yg Allah berikan bahkan pun sebelumnya tidak sanggup sekedar saya bayangkan, AlhamduliLah. Sementara di sepanjang jalanan menuju parkiran, banyak sekali rombongan jamaah yg masih bertahan di bawah bakaran matahari, terus menunggu, mungkin bis mereka belum kunjung tiba.
Bis saya dengan my beloved sister - Ina Zia Martinis dan keluarga terpisah, sedikit mengukir kecewa. Sempat terpikir untuk menabrak segala aturan dari travel agar kami bisa bersama, namun khawatir justru nanti akan merugikan jamaah lain. Saya tidak punya pilihan kecuali menjalani segalanya dengan hati lapang dan rasa syukur, karena hanya dengan itu Allah berjanji akan melipatgandakan segala nikmat-Nya!
"Bila kamu bersyukur, maka akan Ku lipatgandakan nikmat-Ku. Bila kamu ingkar, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih." Ayat ini kemudian yang menjadi penenang saya sepanjang perjalanan.
Sedikit keluar dr bandara, kami dikelompokkan lagi di bis masing2 berdasarkan manifest data dari travel. Harapan perjalanan 1 bis dengan Ina semakin pupus. Formasi perjalanan ini akan tetap begini selama kami berada di tanah suci. Yaaa sudahlah.
Perjalanan kami selanjutnya ditemani seorang pembimbing (mutawif) menuju Madinah - kotanya para Nabi. Jarak Jedah - Madinah sekitar 400 an km, dengan waktu tempuh 6 - 8 jam, termasuk waktu untuk berhenti sholat dan istirahat.
Sepanjang perjalanan kami diisi dengan sholawat pada RasuluLlah SAW tercinta. Pikiran saya mengembara pada peristiwa hijrah RasuluLlah dari Makkah ke Madinah yang hanya dengan menunggang unta, bukan naik bis nyaman seperti sekarang. Waktu tempuh perjalanan Rosul saat itu selama 1 minggu. Sangat sulit membayangkan beratnya perjalanan beliau saat itu membelah gurun yang nyaris tandus tanpa kehidupan. Hanya ada beberapa pohon2 kerdil yang tumbuh menemani luasnya padang yang sepi. Untunglah kaum Anshor di Madinah menyambut kaum Muhajirin (RosuluLlah beserta rombongan yang diusir kaum kafir Quraish dari tanah suci Makkah) dengan sepenuh cinta. Mengenang keagungan RasuluLlah membuat mata saya kembali basah. Allahumma sholli wa salim wa barik alaih...

Mentari senja terus tersenyum menemani kami. Kehangatannya makin redup menerobos sela-sela langit sembari menyampaikan salam "ahlan wa sahlan"..:-) Tampak beberapa kawanan unta yang lepas dan hidup bebas di tandusnya gurun, padahal makanan mereka adalah rumput. Bagaimana mungkin kawanan unta itu dapat bertahan hidup di luasnya padang pasir yang terlalu gersang? Allahu Akbar! Sungguh hanya Allah Maha Kaya dan Maha Pengatur Rizki, tak sampai akal manusia untuk dapat menalarnya. Pemandangan langit senja semakin nyata memunculkan pesona. Sungguh keindahan pemandangan gurun yang tidak hanya menyejukkan mata, namun juga teramat menggetarkan denyut setiap nadi yang sangat sulit bagi saya untuk dapat menceritakannya.
Allah, hati ini terasa begitu tentram dan damai. RasulluLlah dan para sahabat terasa semakin dekat. Allahu akbar! Berkali2 saya bertakbir, bertasbih, bertahmid. Betapa sempurnyanya Allah yang Maha Tinggi, membuat saya yang begitu hina di hadapan-Nya, sore ini merasa begitu mulia dan sempurna.
Kami tiba di Madinah pada penghujung senja, langsung menuju Hotel Ansar al Jadid. AlhamduliLlah salah satu pintu hotel itu, langsung menghadap ke pintu 17 masjid Nabawi dengan jarak tidak lebih dari 200 m. Mutawif menyampaikan bahwa jam 09.00 malam ini kami akan ke Raudhah.. Ya, salah satu tempat mustajab dan makbulnya segala doa!. Allah, perasaan seperti apakah nanti yang akan saya rasakan saat berdekatan dengan makam manusia mulia itu? RasuluLlah SAW, yang mencintai ummatnya bahkan jauh sebelum kami sempat bertemu?
***
Menembus Raudhah
#SebuahCatatanPerjalanan
Lewat sedikit dari tengah hari, kami telah berkumpul di bis dan makan siang di sana setelah melewati imigrasi yg menghabiskan waktu 6 jam lebih. Semangat mengunjungi BaituLah dan napak tilas perjalanan hidup dan perjuangan RasuluLlah, menjadi penghalau segenap letih.
Ada 5 bis yg disediakan travel untuk kami. 1 bis terdiri dari 45 jamaah. Udara Jeddah yg membakar, sanggup diredam oleh kenyamanan bus AC dg formasi seat 2 2 itu. Ada toilet di dalamnya yg membuat lega karna Ammar masih sangat membutuhkan toilet di sepanjang perjalanan.
Saya kembali merasa tersanjung dengan kenyamanan perjalanan yg Allah berikan bahkan pun sebelumnya tidak sanggup sekedar saya bayangkan, AlhamduliLah. Sementara di sepanjang jalanan menuju parkiran, banyak sekali rombongan jamaah yg masih bertahan di bawah bakaran matahari, terus menunggu, mungkin bis mereka belum kunjung tiba.
Bis saya dengan my beloved sister - Ina Zia Martinis dan keluarga terpisah, sedikit mengukir kecewa. Sempat terpikir untuk menabrak segala aturan dari travel agar kami bisa bersama, namun khawatir justru nanti akan merugikan jamaah lain. Saya tidak punya pilihan kecuali menjalani segalanya dengan hati lapang dan rasa syukur, karena hanya dengan itu Allah berjanji akan melipatgandakan segala nikmat-Nya!
"Bila kamu bersyukur, maka akan Ku lipatgandakan nikmat-Ku. Bila kamu ingkar, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih." Ayat ini kemudian yang menjadi penenang saya sepanjang perjalanan.
Sedikit keluar dr bandara, kami dikelompokkan lagi di bis masing2 berdasarkan manifest data dari travel. Harapan perjalanan 1 bis dengan Ina semakin pupus. Formasi perjalanan ini akan tetap begini selama kami berada di tanah suci. Yaaa sudahlah.
Perjalanan kami selanjutnya ditemani seorang pembimbing (mutawif) menuju Madinah - kotanya para Nabi. Jarak Jedah - Madinah sekitar 400 an km, dengan waktu tempuh 6 - 8 jam, termasuk waktu untuk berhenti sholat dan istirahat.
Sepanjang perjalanan kami diisi dengan sholawat pada RasuluLlah SAW tercinta. Pikiran saya mengembara pada peristiwa hijrah RasuluLlah dari Makkah ke Madinah yang hanya dengan menunggang unta, bukan naik bis nyaman seperti sekarang. Waktu tempuh perjalanan Rosul saat itu selama 1 minggu. Sangat sulit membayangkan beratnya perjalanan beliau saat itu membelah gurun yang nyaris tandus tanpa kehidupan. Hanya ada beberapa pohon2 kerdil yang tumbuh menemani luasnya padang yang sepi. Untunglah kaum Anshor di Madinah menyambut kaum Muhajirin (RosuluLlah beserta rombongan yang diusir kaum kafir Quraish dari tanah suci Makkah) dengan sepenuh cinta. Mengenang keagungan RasuluLlah membuat mata saya kembali basah. Allahumma sholli wa salim wa barik alaih...

Mentari senja terus tersenyum menemani kami. Kehangatannya makin redup menerobos sela-sela langit sembari menyampaikan salam "ahlan wa sahlan"..:-) Tampak beberapa kawanan unta yang lepas dan hidup bebas di tandusnya gurun, padahal makanan mereka adalah rumput. Bagaimana mungkin kawanan unta itu dapat bertahan hidup di luasnya padang pasir yang terlalu gersang? Allahu Akbar! Sungguh hanya Allah Maha Kaya dan Maha Pengatur Rizki, tak sampai akal manusia untuk dapat menalarnya. Pemandangan langit senja semakin nyata memunculkan pesona. Sungguh keindahan pemandangan gurun yang tidak hanya menyejukkan mata, namun juga teramat menggetarkan denyut setiap nadi yang sangat sulit bagi saya untuk dapat menceritakannya.
Allah, hati ini terasa begitu tentram dan damai. RasulluLlah dan para sahabat terasa semakin dekat. Allahu akbar! Berkali2 saya bertakbir, bertasbih, bertahmid. Betapa sempurnyanya Allah yang Maha Tinggi, membuat saya yang begitu hina di hadapan-Nya, sore ini merasa begitu mulia dan sempurna.
Kami tiba di Madinah pada penghujung senja, langsung menuju Hotel Ansar al Jadid. AlhamduliLlah salah satu pintu hotel itu, langsung menghadap ke pintu 17 masjid Nabawi dengan jarak tidak lebih dari 200 m. Mutawif menyampaikan bahwa jam 09.00 malam ini kami akan ke Raudhah.. Ya, salah satu tempat mustajab dan makbulnya segala doa!. Allah, perasaan seperti apakah nanti yang akan saya rasakan saat berdekatan dengan makam manusia mulia itu? RasuluLlah SAW, yang mencintai ummatnya bahkan jauh sebelum kami sempat bertemu?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar